6 February 2020

Hal yang Jangan Pernah Kamu Lakukan Ketika Mendaki Puncak

Posted by Reny Mony under: Uncategorized .

Outbound Puncak – Popularitas Semeru juga mengundang banyak pendaki yang ngotot mau menginjakkan kaki di tanah tertinggi Pulau Jawa tanpa mengindahkan keselamatan mereka. Isu pendaki hilang, cidera, hingga meninggal di Semeru malahan kian tidak jarang terdengar. Nah, adakah di antara kamu yang berencana mendaki gunung yang juga dijuluki “Puncak Abadi Para Dewa” ini?

Film yang disadur dari novel berjudul sama ini jadi pemantik meningkat drastisnya angka pendaki Semeru. Menawarkan pemandangan Semeru yang penuh gambar langit biru juga lavender, malahan dibumbui dengan cerita cinta dan persahabatan khas Indonesia membuat banyak penonton tersihir untuk ikut serta serta merasakan pengalaman mendaki Semeru.

Dalam film hal yang demikian, pemain-pemainnya dengan santai mengenakan celana jeans sepanjang pendakian. Meskipun, jeans adalah bahan yang sebisa mungkin dihindari oleh para pendaki. Selain berat, sifat dasar jeans yang tidak cepat kering kalau terkena air juga bisa membahayakan keselamatan. Mengenakan pakaian yang basah selama pendakian bisa membuatmu kedinginan, bahkan membuatmu terkena hipotermia.

Mengaku sebagai pendaki pemula, anehnya kelompok ini kuat sekali staminanya. Mereka segera berjalan ke Kalimati dalam 1 hari, tanpa nge-camp dulu di Ranu Kumbolo. Rencana pendakian ini terlalu ambisius untuk pendaki pemula. Apabila menuruti rencana pendakian ala 5 CM bisa-bisa kakimu bengkak di tengah jalan. – Komodo Liveaboard

Pengelola sesungguhnya sudah menentukan batas terakhir pendakian yang diizinkan, adalah Kalimati. Melainkan banyak pendaki yang masih gatal mau mencoba pendakian sampai Puncak Jonggring Saloka. Apabila ini adalah pilihanmu, silahkan. Melainkan kamu mesti siap menanggung semua imbas dan imbas yang mungkin muncul.

Apabila memang merasa tidak yakin cakap, ya jangan paksakan dirimu. Pencapaian pendaki ‘kan bukan hanya berhasil sampai puncak. Justru pencapaian sebesar-besarnya adalah saat kamu bisa pulang dengan selamat.

Perjalanan pendakian Semeru tidaklah ringan. Track terberat akan kamu jumpai dalam perjalanan menuju puncak Mahameru, dari Arcopodo. Trek pendakian yang berbatu dan berpasir bisa membuatmu kesulitan membatasi langkah. Jalan 5 langkah, merosot 3 langkah — seperti itu berturut-ikut serta serta. Karena itu penting bagimu mempersiapkan daya untuk menghadapi etape pendakian paling menantang ini.

Perjalanan menuju Arcopodo lazimnya dimulai pendaki pada tengah malam. Alasannya tentu agar bisa menikmati sunrise dari Puncak Jonggring Saloko dan bisa punya waktu lebih lama untuk menikmati keindahan dari tanah tertinggi di Pulau Jawa. Melainkan ini juga yang kadang jadi masalah.

Perjalanan ke Mahameru memang tidak didesain untuk membawa keril. Sudut kemiringan yang cukup ekstrem bisa membuatmu kehilangan keseimbangan jikalau ngotot berjalan dengan keril 60 liter di punggung. Maka dari itu, tinggalkan kerilmu di dalam tenda saja di Kalimati. Kemas barang-barang secukupnya. Cukup bawa air 1,5 liter, cokelat, kurma, dan makanan lain yang bisa mengganjal perut sebagai bekal dalam daypack.

Akan lebih mudah diterangi dengan headlamp. Kamu tak perlu repot-repot mengangkat senter demi menyoroti jalur pendakian yang tak telihat. Tanganmu yang bebas dari kewajiban menggenggam senter bisa dipakai untuk meraih batang dan akar pohon yang masih bisa kadang-kadang ditemui di jalanan Kalimati-Arcopodo.

Penggunaan trekking pole (tongkat yang didesain khusus untuk mendaki) bisa membantumu dalam pendakian. Trek puncak Mahameru sama sekali tidak memiliki vegetasi yang bisa kamu jadikan pegangan. Penggunaan trekking pole bisa jadi alternatif agar kamu tak mesti susah payah mempertahankan pijakan di tengah jalanan pasir yang licin.

Turun dari Puncak Mahameru memang memberikan sensasi tersendiri. Trek pasir yang curam sekali-sekali justru dimanfaatkan para pendaki untuk main seluncuran. Kerja mendaki yang tidak ringan memang perlu dirayakan keberhasilannya. Melainkan, jangan terlalu asyik berseluncur di pasir tanpa melihat titik tempatmu mesti turun.

Konon, Jonggring Saloko baru mengeluarkan asap beracunnya di atas jam 9 atau 10 pagi. Melainkan hal ini tidak sepenuhnya benar. Hakekatnya tidak ada waktu prediksi yang pasti kapan asap beracun dari kawah yang masih aktif ini bisa keluar. Maka dari itu, kamu yang sudah sampai Puncak Semeru tak usah berlama-lama di sana.

Kunjungi Juga : https://archipelagotraveller.com/corporate-outing/

Did you like this? Share it:

Leave a Reply